Thursday, February 5, 2015

Sekilas Tentang Biologi Udang galah (Macrobrachium rosenbergii)



Udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) merupakan spesies dari ordo Decapoda, famili Palaemonidea yang sering disebut “giant freshwater prawn”, dalam siklus hidupnya secara alami memerlukan lingkungan perairan perairan tawar dan payau (Toro & Sugiarto 1979), yang menempati dua habitat yaitu tingkat pascalarva sampai dewasa menghuni perairan air tawar seperti sungai, danau, dan kolam, sedang fase larva sampai mencapai akhir masa metamorfosis menghuni perairan payau yang dipengaruhi oleh pasang surut (Ling 1967).

Siklus hidup udang galah dimulai dari telur-telur yang telah terbuahi dan dierami induknya selama 19-21 hari dan menetas menjadi larva. Udang dewasa akan memijah dan melepaskan telurnya di perairan tawar atau payau dan larva yang baru menetas tersebut akan menuju muara sungai. Apabila dalam waktu tiga hari tidak mencapai perairan payau, larva akan mati (Wickins 1976). Untuk mencapai tingkatan pascalarva, larva dalam perkembangannya rata-rata membutuhkan waktu 45 hari atau harus melalui 11 kali metamorfosis, dimana setiap tahapnya terjadi pergantian kulit serta diikuti dengan perubahan struktur morfologis. Setelah melewati stadia 11x metamorfosis, larva akan berubah bentuk menjadi juvenil yang secara morfologis bentuknya seperti udang dewasa tetapi ukurannya lebih kecil, dan memerlukan lingkungan air tawar sampai menjadi dewasa (Daniel et al. 2001).
Gambar 1. Siklus hidup udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man).


Untuk membedakan antara udang galah jantan dan betina terdapat beberapa ciri yang dapat digunakan antara lain bentuk badan, letak alat kelamin, dan bentuk serta ukuran dari pasangan kaki jalan ke dua. Bentuk badan udang galah jantan di bagian perut lebih ramping dan ukuran pleuronnya lebih pendek, sedangkan udang galah betina bagian perutnya lebih melebar dan pleuron sedikit memanjang. Letak alat kelamin udang galah jantan terdapat pada basis pasangan kaki jalan ke lima, sedangkan untuk udang galah betina, alat kelamin terletak pada basis pasangan kaki jalan ke tiga. Bentuk dan ukuran kaki jalan kedua udang galah jantan sangat mencolok, yakni besar dan panjang mirip galah, sedangkan betinanya lebih kecil dan tidak mencolok (Ling 1967; Sherman dan Sherman 1976; Hadie dan Hadie 1993).

Friday, January 2, 2015

Sekilas Tentang Nipah (Nypa fruticans)

Nipah (Nypa fruticans) dikenal sebagai tanaman serbaguna yang hidup di rawa payau di daerah pesisir. Secara tradisional daunnya digunakan sebagai atap rumah penduduk, buahnya yang seperti kolang-kaling sering dijadikan tambahan minuman penyegar dan manisan, niranya disadap dan dapat diolah menjadi gula (Ambarjaya 2007). Nipah tumbuh subur pada daerah payau yang dipengaruhi pasang surut, terutama sekali di muara sungai dan di belakang hutan bakau. Terkadang jenis ini hidup sebagai kelompok sejenis yang sangat rapat. Nipah tersebar di Asia Tenggara terutama Malaysia, Indonesia (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua), Papua Nugini, Filipina, Australia, dan Kepulauan Pasifik Barat. Tanaman nipah tumbuh subur di hutan daerah pasang surut (hutan mangrove) dan daerah rawa-rawa atau muara-muara sungai yang berair payau. Di Indonesia, luas daerah tanaman nipah adalah 10 persen atau 700 000 hektar dari luas daerah pasang surut sebesar 7 000 000 hektar. Populasi nipah diperkirakan sekitar 8 000 pohon per hektar sehingga dari luas areal tanam yang ada sekarang terdapat 5.6 miliar pohon.

Wednesday, December 24, 2014

Siklus Hidup Kijing (Anodonta woodiana)

Pada kijing (Anodonta woodiana), sel telur yang sudah dibuahi oleh sperma akan menetas menjadi glokidia. Glokidia ini akan keluar dari induknya dengan cara meninggalkan insang melalui rongga suprabrankial dan sifon inhalant. Glokidia ini selanjutnya akan jatuh ke dasar perairan atau terbawa arus air. Bila ada ikan berenang dekat dasar perairan, maka glokidia akan menempelkan kaitnya pada sirip ikan atau bagian permukaan tubuh ikan. Tiap jenis kijing muda mempunyai satu atau beberapa jenis ikan sebagai induk semangnya. Menurut Rheichard et al. (2006), ikan kelompok Cyprinidae merupakan inang yang baik bagi A. woodiana karena memiliki hubungan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Glokidia kijing membutuhkan inang sebagai tempat menempel untuk pertumbuhannya, sedangkan ikan menggunakan glokidia sebagai foster parents (orangtua asuh) yang membantu perkembangan embrio mereka.

Penempelan glokidia menimbulkan reaksi inang dengan tumbuhnya jaringan sekitar parasit dan membentuk siste (cyst) (Suwignyo et al. 2005). Larva glokidia di dalam siste hidup sebagai parasit, dengan mantelnya yang berisi phagocyte memakan jaringan tubuh inang untuk pertumbuhannya. Beberapa jenis Unionidae memiliki sifat parasit spesifik terhadap satu macam ikan inang (Smith 2001). Selama periode parasit antara 10 sampai 30 hari terjadi metamorfosa menjadi anak kijing. Akhirnya anak kijing keluar dari siste, jatuh ke dasar perairan dan hidup di dasar perairan berlumpur dan berkembang menjadi dewasa. Pendapat ini berbeda dari hasil penelitian Reichard et al. (2006) tersebut di atas. Oleh karena itu, interaksi antara glokidia kijing dan inangnya selain bersifat simbiosis mutualisme juga dapat bersifat parasitisme. Glokidia melekat pada insang ikan inang dan encyst, yaitu glokidia dalam filamen insang ikan. Kira-kira 3 minggu glokidia-glokidia tersebut jatuh dari insang dan menetap di dasar dan berubah menjadi juvenil. Juvenil tersebut panjangnya mendekati 0.75 mm.